Terkini :
Bakharuddin. Diberdayakan oleh Blogger.
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Meng-ON-kan gen bakat anak

Penulis : Bakharuddin Ahmad on Selasa, 27 Januari 2015 | 19.27

Selasa, 27 Januari 2015

Segerombolan ibu-ibu Jepang mengintip dari balik jendela, menyaksikan anak-anak mereka yang sedang berlatih tari hip-hop. Ya, mereka adalah ibu-ibu yang berharap besar anak-anaknya menjadi artis/aktor terkenal dan tempat mereka mengintip adalah sebuah sekolah pembinaan bakat seni.
Saya benar-benar terpukau dengan penyajian acara di TV Jepang dua hari yang lalu. Saya terpaksa menghentikan sejenak kegiatan memperbaiki disertasi dan segera membuka halaman baru di komputer untuk mencatat hal-hal yang penting.
Malam itu ditayangkan tentang bagaimana pembinaan bakat di Cina dan di Jepang. Seperti biasa, acara melibatkan para artis dan juga tak lupa Professor ternama yang sedang meneliti tentang gen yang memetakan bakat seseorang, dan juga seorang penulis buku terkenal tentang bagaimana bakat dilatihkan di kalangan olahragawan terkenal seperti Ichiro Suzuki. Ini keunikannya barangkali bahwa menonton TV Jepang selalu membawa kita pada sebuah pengetahuan baru, makanya tak pernah bosan menontonnya.
Acara diawali dengan sorotan ke Cina, tentang uji gen anak-anak balita (masih duduk di TK atau pra sekolah). Orang tua di Cina tidak saja dari kalangan berpunya, tetapi juga dari kalangan menengah terlihat berbondong-bondong mendatangi pusat pengecekan genetik anak. Dari situ mereka memperoleh selembaran kertas yang menjelaskan tentang kemampuan dominan anak, dan bakat apa yang semestinya diasahkan. Berdasarkan data tsb, ada beberapa anak yang dikatakan memiliki bakat sebagai pianis, maka ibunya mengantarkannya ke kelas-kelas piano. Ada yang berbakat menjadi olahragawan, maka ibunya mengantarkannya ke sebuah klub olahraga. Di antara mereka, ada yang masih 3 tahunan, sehingga alih-alih serius berlatih, mereka malah bermain-main.
Reporter dari Jepang yang meliput acara mewawancarai dua orang ibu, dan menanyakan apakah tidak berat biaya yg harus dipikul dan apa alasan mereka melakukan itu? Dijawab, tidak. Biayanya ringan dan mereka berharap dengan pengetahuan dini, anak-anak bisa dikembangkan bakatnya dengan lebih baik. Reporter kemudian berkisah bahwa di Jepang belum ada sistem ini, dan dia mempunyai anak tiga tahun, apa yang sebaiknya dilakukan? Kedua ibu menjawab sambil tertawa : sistem ini sudah mendunia, dan bagaimana kalau anda memeriksakan anak anda di Cina ?
Tayangan berikutnya beralih ke Jepang, sebagaimana saya gambarkan di awal tulisan. Banyak sekali orang tua Jepang yang berharap anak-anaknya akan tumbuh menjadi artis atau model. Karenanya peminat sekolah pembinaan bakat seni sangat diminati. Seorang ibu digambarkan setelah latihan selesai, mengantar anaknya pulang, dan di rumah kembali mengawasi anaknya mengulang-ulang tarian yang diajarkan tadi. Sesekali dia menegur pada bagian yang salah. Ayahnya ketika ditanya kesannya tentang kegiatan anak, menjawab bahwa dia tidak mengalami masa seperti ini dulu, jadi apa yang sekarang dikerjakan anaknya membuatnya senang. Si Ibu lebih bersemangat lagi karena ternyata suaranya bagus.
Pada tanyangan berikutnya digambarkan seorang ayah yang menginginkan anaknya menjadi pemain golf terkenal, dan si anak kelihatannya memang berbakat. Seperti diketahui saat ini ada seorang remaja Jepang yang menjadi pegolf ternama dengan penghasilan miliaran. Ryuu Ishikawa, dia tercatat dalam Guiness Book sebagai pemain muda yang terdaftar dalam kompetisi golf dunia, the Master, dan baru-baru ini dia kembali menorehkan catatan dalam Guiness book dengan perolehan hasil yang mencengangkan di sebuah pertandingan. Sejak fenomena Ishikawa muncul setiap hari di layar TV dan di koran-koran, sekolah-sekolah golf menjadi bejibun. Ayah dan anak yang diceritakan di atas bukanlah dari keluarga kaya. Ayah hanya pegawai swasta biasa dengan penghasilan sebagaimana kebanyakan orang Jepang. Untuk sekali bermain di sekolah golf mereka perlu membayar 1000 yen seharinya atau kadang-kadang bonus 600 yen. Sang ayah mengatakan bahwa mereka sangat berhemat di dalam keluarga agar si anak bisa berlatih golf setiap hari. Menurut saya ini termasuk kegilaan yang dimiliki orang Jepang. Sepulang dari latihan di sekolah golf, di rumah kembali si anak digembleng oleh ayahnya, dan jika melakukan kesalahan, si anak mesti melakukan push up.
Tayangan lain adalah tentang seorang anak perempuan kecil yang telah menjuarai kompetisi pianis sedunia.Tangannya lincah menari-nari didampingi oleh seorang guru, pianis terkenal. Ibunya duduk di belakang sambil ikut mengecek not-not yang dimainkan anak, dan memberikan coretan-coretan tt sesuai dengan komentar sensei. Sepulangnya ke rumah, giliran ayah yang menemani anak berlatih. Ayah bukan termasuk pemain piano yang baik, tetapi dia rupanya punya kemampuan baca not yang cukup baik, sehingga bisa memberikan saran kecepatan atau tekanan tertentu pada nada-nada yang dimainkan anak. Ketika ditanya, apakah pendapat atau kritikan dari ayah tidak membuatnya kesal ? Si anak menjawab, pendapat ayah banyak yang mirip dengan pendapat sensei.
Lalu sesi selanjutnya adalah komentar para pakar. Seorang professor di Tsukuba University yang sedang meneliti tentang gen-gen yang memetakan bakat anak berpendapat bahwa semua orang pada dasarnya punya gen bakat. Ada gen bakat yang baik dan ada gen bakat yang buruk. Yang sangat diperlukan adalah meng-ON-kan gen bakat yang baik dan meng-OFF-kan gen bakat yang buruk. Penelitian professor tidak diblurkan di layar TV, karena merupakan salah satu karya yang belum selesai diteliti, dan belum dipublikasikan. Professor beranggapan bahwa upaya meng-ON-kan gen bakat baik adalah melalui pendekatan hati atau kasih sayang. Wah, ini menarik sekali.
Selanjutnya tayangan dipindahkan untuk mewawancarai penulis yang merilis buku tentang pengembangan bakat orang-orang ternama di Jepang. Yang ditanyangkan contohnya pada malam itu dalam bentuk drama pendek adalah kehidupan pemain baseball dunia Ichiro Suzuki dan Matsuzaka Daisuke yang bermain di liga Amerika, petenis dunia wanita Ai Sugiyama yang pernah bermain bersama Yayuk Basuki, dan pemenang medali perunggu anggar Olimpiade Beijing 2009, Oota Yuuki.
Ada tujuh cara yang dilakukan oleh para orang tua atlet tersebut di atas semenjak anak-anak mereka kecil, yaitu
1. membiasakan anak untuk menggunakan kaki, berlari, bermain di taman, atau bahkan kadang-kadang memijat-mijat tapak kaki anak-anak. Menurut professor yang ikut diwawancarai malam itu, pusat urat semuanya ada di kaki. Jadi membiasakan anak berlari tanpa menggunakan sepatu atau memijat-mijat kaki anak adalah upaya untuk mencegah bekunya aliran darah. Prinsip ini sama dengan yang dipakai di dalam ilmu refleksi
2. Memuji dan tidak pernah memarahi. Jika dilatih dengan ritme yang keras, dan orang tua seringkali memarahi anak, si anak akan merasa takut sekali ketika melakukan kesalahan, dan ini membekas pada rasa percaya dirinya yang lemah. Orang tua Ichiro tidak pernah marah saat melatih anaknya sekalipun Ichiro kecil melakukan kesalahan. Biasanya ayah akan mengatakan: tidak apa-apa, mungkin harus sedikit diperbaiki di bagian ini, dll. Ada sebuah penelitian ditampilkan tentang dua grup basket anak sekolah. Kedua grup diperlakukan berbeda, salah satu grup selalu dimarahi setiap kali gagal meraih target dan melakukan kesalahan dalam pertandingan, dan grup lainnya selalu dipuji, sekalipun kalah, misalnya pelatihnya selalu mengatakan, “tidak apa-apa kalah, yang penting semuanya sudah berusaha, lain kali kita pasti menang !” Pada akhir penelitian ternyata grup yang selalu dipuji menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.
3. Orang tua harus menjadi bagian atau menyukai apa yang dilakukan si anak. Ayah Ichiro adalah pemain baseball sekalipun hanya tingkat sekolah. Ayah Matsuzaka demikian pula. Ibu Ai Sugiyama adalah pemain tenis, dan ayah Ooda adalah guru SD tetapi sekaligus menggemari anggar. Keterlibatan  orang tua dalam berlatih menciptakan suasana yang menyenangkan dalam diri anak, dan keinginan untuk sekuat ayahnya atau paling tidak mulai muncul obsesi untuk mengalahkan ayah di masa datang.
4.Memasang target yang perlu dicapai anak sedikit demi sedikit. Misalnya minggu ini bisa memukul bola sepuluh kali, atau tahun ini ikut kompetisi sekali, dll. Dengan target tsb, anak-anak terpacu dan bersemangat untuk berlatih, sebab target jelas. Tapi target yang dipasang tidak boleh terlalu tinggi, sebab anak akan merasa sangat tertekan jika tak mampu mencapainya.
5. Ketika anak pulang ke rumah, harus ada yang menyambutnya di rumah baik ayah maupun ibunya. Ayah Matsuzaka diceritakan selalu pulang lebih awal daripada pegawai kantor lainnya. Dia membereskan pekerjaannya dengan cepat, dan selalu tiba di rumah sebelum anaknya pulang dari sekolah.
6. Hubungan kedua orang tua baik. Misalnya ayah Oota selalu mengantar istrinya pergi berbelanja. Ayah dan Ibu Matsuzaka selalu bersenda gurau di dalam keluarga, dan kelihatannya sang anak tidak pernah mengalami stress, karena belum pernah melihat orang tuanya bertengkar. Mereka berdua selalu rukun, makan malam bersama, makan pagi bersama.
7. Orang tua harus menyiapkan waktu untuk mendidik anak, mengantarnya berlatih, dan membimbingnya. Dengan waktu yang disediakan dan perhatian yang besar, bakat anak akan terus terasah. Ibu Ai Sugiyama bahkan selalu mengantar anaknya ke tempat berlatih, lalu dia pergi ke kantor, kemudian sore harinya menjemput anaknya. Begitu terus sampai Ai menjadi pemain dunia dan menghabiskan waktunya di luar negeri mengikuti beberapa turnamen. Sang ibu tidak merasa lelah, bahkan sebaliknya dia menikmati sekali tugas-tugas itu dan sangat bangga dan kagum pada prestasi yang dicapai anaknya.
Ada satu lagi hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak kedua biasanya lebih berprestasi daripada anak kesatu, karena dia lebih banyak meniru dan masa bermain bersama kakaknya. Tetapi penelitian lain menunjukkan bahwa 60% peraih hadiah nobel adalah anak pertama. Dengan alasan, bahwa anak pertama kemungkinan mendapatkan kasih sayang yang lebih baik, karena kedudukannya sebagai anak pertama dalam keluarga.
Demikianlah, boleh jadi model pengecekan bakat di Jepang adalah model kuno dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah menerapkan pemeriksaan secara genetis, tetapi sesuai dengan pendapat professor dari Tsukuba, setiap anak mempunyai gen bakat yang bisa di-ON-kan dengan pengasuhan penuh kasih sayang.
Sumber : https://murniramli.wordpress.com/2010/05/25/meng-on-kan-gen-bakat-anak/
komentar | | Read More...

SIDAK bersama Kepala BKPP dan Jajaran

Bersama Kepala BKPP Sidak ke Kelurahan

Foto sebelum berangkat Sidak

Bersama Sekretaris dan Kabid
Melakukan tugas rutin bersama Kepala BKPP Kepulauan Meranti dan Jajaran SIDAK ke beberapa Instansi/SKPD untuk melihat secara langsung kondisi kedisiplinan di SKPD dilingkungan Pemerintah Daerah Kepulauan Meranti.
komentar | | Read More...

Teratas

 
Copyright © 2011. Bakharuddin ~ Catatan dan Artikel Seputar Pendidikan . All Rights Reserved.
Design Template by Bakharuddin | Support by creating website | Powered by Blogger