Articles Update :
Hot Articles »
Bagikan kepada teman!

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DI LEVEL DAERAH MELALUI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAERAH

Penulis : Bakharuddin Ahmad on Wednesday, 3 April 2013 | 15:34

Wednesday, 3 April 2013


Bagaimana manajemen pendidikan di level daerah harus dikelola agar guru-guru di daerah memiliki kompetensi yang standar dan senantiasa diperbaharui ?

Pendidikan di daerah harus dikelola dengan mempertimbangkan potensi dan karakter daerah.  Sekolah-sekolah dibangun dengan pertimbangan kapasitas siswa yang masuk dan kualitas guru yang memadai. Sekolah-sekolah juga harus dibangun dengan fasilitas yang minimum sama.

Kebijakan pendidikan di daerah pun harus disusun berdasarkan survey yang akurat tentang fakta di lapang.

Namun sayang, di negara kita banyak kebijakan yang lahir tidak dengan survey yang menyentuh level pelaksana.  Kebijakan sertifikasi guru dikembangkan dengan dasar guru-guru kita tidak terstandardisasi dengan baik.  Pejabat menyebut-nyebut tentang kompetensi yang harus dicapai guru, tetapi apakah survey sudah pernah diadakan tentang pemetaan kompetensi guru-guru kita ?  Data yang kita punya barangkali hanya bahwa sekian persen guru kita lulusan Diploma, sekian persen lulusan S1, sehingga perlu dilakukan sertifikasi.  Tetapi apakah ada pengamatan yang intens dari pejabat tentang bagaimana fakta di sekolah-sekolah tentang kemampuan mengajar guru ?

Selain survey yang akurat terhadap kondisi guru-guru, pemerintah daerah juga perlu merancang evaluasi guru.  Berdasarkan data survey/evaluasi, pemerintah dapat memetakan siapa saja yang harus mengikuti pelatihan, siapa saja yang perlu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pelatihan/pendidikan yang perlu disiapkan untuk para guru bukanlah pendidikan tentang konsep-konsep mendidik, tetapi yang lebih utama adalah pendidikan ilmu murni.  Oleh karenanya kerjasama dengan universitas perlu dikembangkan untuk membuat sebuah link peng-update-an keilmuan guru.  Lalu apa fungsi IKIP/UP atau LPTK ? Lembaga-lembaga pendidikan guru adalah lembaga untuk calon guru, yang bertujuan untuk mempersiapkan calon guru dengan bekal-bekal ilmu kependidikan untuk menjalankan profesinya sebagaimana mestinya. Sedangkan Universitas adalah lembaga yang seharusnya dipercaya untuk mendidik guru dari segi keilmuan yang diajarkannya.

Selain memberikan peluang belajar dan berkembang kepada guru di daerah, pemerintah daerah juga perlu mempelopori forum ilmiah guru.  Forum yang akan memberikan kesempatan kepada guru-guru daerah untuk saling bertukar metode mengajar, keilmuan baru dan sekaligus melatih guru untuk menyampaikan idenya secara ilmiah.  Dalam forum ilmiah ini, sangat perlu pula mengundang pakar/ilmuan/praktisi untuk menambah keluasan keilmuan para guru.

Saya menghadiri secara rutin forum guru yang diselenggarakan di sebuah provinsi di Jepang, yaitu prefektur Nagano.  Setiap tahun pada bulan Oktober, guru-guru seNagano berkumpul di sebuah kota kemudian mereka melaporkan hasil penelitiannya, baik itu berupa action research, survey sekolah, atau penerapan manajemen baru di sekolah.  Pakar-pakar pendidikan dari Univeristas terkenal diundang untuk menjadi komentator dan sekaligus mereka juga dilibatkan sebagai penasehat proyek penelitian guru. Apa yang dipresentasikan para guru tak sedikit yang dimuat dalam jurnal-jurnal ilmiah atau bahkan terbit menjadi buku.

Semua kegiatan itu tak akan berjalan jika pemerintah setempat tak mendukungnya dengan baik, dan para guru juga bersemangat untuk menjadi maju.  Semua guru yang hadir di forum tersebut, datang dengan kerelaan, karena sekolah tidak pernah mewajibkan.  Mereka pun secara mandiri membayar uang pendaftaran atau biaya akomodasi.  Karena menariknya forum ini, dan pelaksanaanya yang selalu di hari Sabtu dan Minggu, memungkinkan semua guru hadir, tidak hanya guru-guru Nagano, tetapi guru-guru di belahan Jepang yang lain pun hadir.

Peranan pemerintah yang lainnya yang menurut saya sangat perlu dilaksanakan adalah menyiapkan mediator yang memadai bagi para guru untuk saling berkomunikasi.  TV daerah misalnya dapat dijadikan sebagai alat untuk memacu prestasi mengajar guru. Dengan menyediakan slot acara pendidikan seperti metode mengajar guru sekolah A, bagaimana menangani anak nakal atau bermasalah di sekolah B, dll, dapat menjadi sarana efektif untuk pengembangan pendidikan di daerah.

Selengkapnya baca : http://murniramli.wordpress.com/2009/01/03/manajemen-pendidikan-dan-profesionalisme-guru/
komentar | | Read More...

Manajemen : Sampaikan Ide Secara Tertulis


Proses delegasi adalah mutlak jika seorang pemimpin tidak mau mati berdiri karena harus menangani semua tugas-tugas. Ada banyak pemimpin yang memiliki karakter anti kemapanan, dan selalu muncul di dalam rapat-rapat dengan ide-ide brilian. Ide-ide itu memang akan disampaikan kepada semua bawahannya, tetapi hanya penjelasan ringkas. Tidak ada keterangan tertulis yang menjelaskan asal muasal/latar belakang program, bagaimana target dan tujuannya, bagaimana pengelolaannya, dan bagaimana evaluasinya. Semuanya hanya berupa penjelasan makro.

Apa akibatnya jika terjadi delegasi yang kurang matang seperti itu? Yang akan terjadi adalah pemborosan waktu, energi dan tentu saja dana. Karena ketidakjelasan pendelegasian, si bawahan akan bolak-balik bertanya, baik secara langsung maupun via telepon. Bawahan juga tidak berani mengambil keputusan mandiri saat ada permasalahan di lapangan karena dia tidak tahu sebatas mana yang boleh dia lakukan dalam program tersebut, dan sebatas mana yang dilarang.

Supaya tidak terjadi hal yang demikian, maka sebuah ide yang dilontarkan oleh seorang pemimpin atau non pemimpin harus dituangkan dalam bentuk tertulis yang dibagikan kepada semua bawahan/anggota. Uraian ide tersebut formatnya boleh apa saja, tetapi paling tidak semacam proposal proyek/program yang menjelaskan latar belakang, tujuan, target, waktu dan tempat pelaksanaan, pendanaan, siapa saja yang terlibat (pelaku), tugas-tugas dan wewenang masing-masing pihak.

Jika telah ada uraian tertulis, maka pemimpin hanya perlu menunggu laporan hasil saja, atau jika diperlukan konsultasi untuk masalah-masalah yang tidak dituliskan dalam uraian kerja tersebut. Dan si pemimpin dapat mulai mengerjakan hal yang lain sambil tetap mengontrol program bersangkutan.

Sayangnya budaya tulis menulis sangat lemah di antara kita. Banyak orang lebih suka “berkhayal” dengan ide-idenya, dan lebih suka mengoceh saja tentang rencana-rencananya. Tetapi mungkin juga hal itu dilakukan karena tidak semua orang pandai menuangkan ide dalam bentuk uraian tertulis. Tetapi menuangkan ide dalam bentuk tulisan bukanlah masalah bakat dan talenta. Semua orang bisa melakukannya asalkan dilatih dan mau belajar.

Untuk melatih siswa-siswa di sekolah menyampaikan ide dalam bentuk tertulis, banyak cara yang bisa dilakukan guru. Sebelumnya perlu didefinisikan terlebih dahulu bahwa kata “tertulis” juga bermakna uraian dalam bentuk gambar.  Misalnya ketika murid-murid diminta idenya untuk memperingati hari bumi yang beberapa waktu lalu kita peringati, tuntun mereka untuk tidak sekedar bicara, tetapi harus menyampaikan ide yang runut. Jika hanya sekedar diskusi, bolehlah ide disampaikan dengan gamblang, tetapi pelatihan kepada siswa agar dia mampu menelurkan idenya dalam bentuk tulisan, harus dilaksanakan pada kelas-kelas yang lebih dari sekedar diskusi. Pendekatannya akan lebih tepat apabila digunakan pendekatan proyek kelas. Sehingga siswa akan mengerjakannya tidak hanya sejam dua jam pelajaran, tetapi dapat dialokasikan waktu seminggu atau lebih.

Untuk dapat menyampaikan ide secara tertulis, tentu saja yang perlu dimatangkan adalah kemampuan bahasa tulis anak. Di tingkat SD dan SMP, siswa belum wajib hukumnya membuat proposal rumit seperti yang diajarkan di level universitas. Para siswa dapat menyampaikan idenya secara sederhana dengan membuat gambar, karikatur, atau skema kegiatan dengan sedikit tulisan. Tetapi, penggambaran/penguraian tersebut harus memuat, apa tujuannya (jika anak belum mengerti apa arti kata tujuan, maka dapat dipakai kata, apa gunanya), untuk siapa kegiatan itu, apa saja yang dilakukan, kapan, berapa lama, di mana, dan berapa orang yang akan melakukannya, serta bagaimana memperoleh dana/bahan yang akan dipakai. Secara mudahnya, menyampaikan ide seperti menguraikan perjalanan dari Semarang ke Jakarta.

Anak-anak SMP dan SMA biasanya akan lebih terlatih dengan penyampaian ide secara tertulis, apabila mereka terlibat dalam kegiatan organisasi di sekolah, baik OSIS, Pramuka, PMR, maupun organisasi lainnya. Mereka biasanya berlatih menulis proposal dengan pola peniruan proposal yang dilakukan kakak kelasnya, terutama sub-sub bagian dalam proposal. Lama-lama keahlian menyusun proposal sudah seperti keahlian menulis diary 

Sumber : http://murniramli.wordpress.com/2011/05/20/sampaikan-ide-secara-tertulis/

Menyampaikan ide secara tertulis tidak saja untuk keperluan penulisan proposal penelitian, tetapi seperti diuraikan di atas, keahlian dan kebiasaan ini perlu dikuasai oleh pemimpin agar tidak terjadi salah isi penugasan kepada bawahan.
komentar | | Read More...

Statistic

Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net


 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Bakharuddin . All Rights Reserved.
Design Template by Bakharuddin | Support by creating website | Powered by Blogger