Terkini :
Bakharuddin. Diberdayakan oleh Blogger.
Hot News »
Bagikan kepada teman!

Sang Taikonya Samson Rambah Pasir

Penulis : Bakharuddin Ahmad on Minggu, 17 Mei 2015 | 02.47

Minggu, 17 Mei 2015


KETIKA menjamu Matsuda Kazuya, seorang antropolog, di sebuah rumah makan di Batam beberapa waktu lalu sebelum ia terbang ke Jepang via Singapura, saya sempat mencongkel sedikit tentang Toyotomi Hideyoshi sebagaimana yang saya baca dalam novel monumental karya Eiji Yoshikawa.
“Apa yang menarik dari buah karya novelis terbilang Jepang, Eiji Yoshikawa berjudul Taiko yang dalam bahasa aslinya berjudul Shinsho Taikoki?” Tanya saya. 
Dan ternyata, Toyotomi Hideyoshi, tokoh utama dalam novel tersebut, sebagaimana yang diakui Matsuda, bukan setakat tokoh fiksi dalam sebuah karya novel. Ianya seorang tokoh nyata, bahkan seorang pahlawan. Seorang pembaharu dalam sejarah Jepang modern menuju Zaman Keemasan. Di penghujung usianya, Toyotomi Hideyoshi mengukuhkan kedudukannya sebagai pemimpin seluruh negeri secara de facto, mematahkan kekuasaan marga-marga samurai yang berabad-abad mentradisi dalam masyarakat Jepang. Dan Taiko adalah gelar yang dianugerahkan oleh sang Tenno (kaisar yang berkuasa secara de yure) kepada Toyotomi Hideyoshi.
Apa yang menarik dari Hideyoshi? 
Sebagaimana yang ditulis Eiji Yoshikawa dalam bab penutup novelnya berjudul Taiko alias Shinsho Taikoki itu: Puncak gunung bukan tujuan akhir dari sebuah pendakian. Tujuan sesungguhnya dari sebuah pendakian adalah memperoleh kenikmatan ketika berhasil melalui rintangan demi rintangan sepanjang pendakian! Dan ini adalah filsafat hidup seorang Taiko. Selanjutnya Yoshikawa menulis tentang Taiko:
Betapa membosankan hidup bebas dari kebimbangan dan perjuangan yang melelahkan. Betapa cepatnya orang akan bosan menempuh perjalanan di tempat datar. Pada akhirnya, hidup manusia merupakan rangkaian penderitaan dan perjuangan, dan kenikmatan hidup tidak terletak dalam masa-masa jeda yang singkat.
***
Toyotomi Hideyoshi adalah manusia yang lahir dalam kesengsaraan, tumbuh dewasa dan bermain di tengah-tengah kesengsaraan itu. Dari seorang anak kampung yang miskin, ugal-ugalan dan liar, ia tumbuh menjadi seorang pemimpin terkemuka. Coba kita simak sebuah momen masa kacil Hideyoshi yang bernama kecil Hiyoshi sebagaimana yang digambarkan Eiji Yoshikawa dalam bab pembuka novelnya: 
”Itu tawonku!”
”Bukan, punyaku!”
Bagai angin puyuh, tujuh atau delapan bocah lelaki berlari melintasi ladang. Mereka mengayun-ayunkan tongkat ke hamparan kembang sesawi berwarna kuning dan kembang lobak berwarna putih bersih untuk mencari tawon-tawon dengan kantong madu, yang biasa disebut tawon Korea. Anak Yaemon, Hiyoshi (Hideyoshi kecil), baru berusia enam tahun, tapi wajahnya yang berkerut-kerut tampak seperti buah prem yang diasamkan. Ia lebih kecil dibandingkan anak-anak lainnya, namun sifatnya ugal-ugalan dan liar tak tertandingi. 
***
Di usia ke 49, menjelang usia 50 tahun, antara musim semi dan musim gugur, Hideyoshi menoleh ke belakang mengenang masa lalunya, termasuk masa kecilnya di ladang ketika mengejar tawon bersama teman-teman masa kecilnya. Mau tak mau, di usianya yang mendekati 50 tahun, ia mesti mengucapkan selamat pada dirinya yang telah menjadi pemimpin tertinggi secara de facto, setelah menjalani pahit getir, lika-liku perjuangan hidup dan pantang menyerah. 
Banyak sudah menang-kalah di medan perang telah ia lalui. Bahkan, dalam pertempuran di Sekigahara, ia hampir mati. Ratusan ribu pasukannya tewas. Di tengah-tengah gelimpangan mayat-mayat pasukannya ia terharu dan menangis: Oh, betapa nikmatnya kekalahan ini, karena dengan kekalahan ini aku mendapat sebuah pengertian: betapa nikmatnya kemenangan yang pernah kuraih. Dan kekalahan di padang Sekigahara itu memacu semangat Hideyoshi untuk senantiasa memenangkan setiap pertempuran berikutnya.
Musuh terberatnya sepanjang masa dan bahkan tak pernah dapat ia kalahkan di medan perang adalah Ieyasu, dan pada bulan Kesepuluh Tahun Tensho Keempat Belas, Ieyasu menyerahkan kemenangan politik kepada Hideyoshi. Dan pertemuan itu dikenal sebagai pertemuan benteng Osaka yang bersejarah. Kemenangan, ternyata tak selamanya di raih di medan pertempuran bersenjata! 
Di usianya yang ke 49 – menjelang 50, Hideyoshi selalu mengenang gunung-gunung yang didakinya. Dan semakin kukuh di dalam dirinya sebuah tekad: jangan pernah ragu bahwa kita sanggup membalik setiap kesulitan menjadi keuntungan!
***
”Membalik setiap kesulitan menjadi keuntungan,” kali ini ucapan itu dari Matsuda Kazuya yang duduk di depan saya di sebuah rumah makan di Batam, sebelum ia saya antar ke Pelabuhan Batam Centre untuk meneruskan perjalanan ke Singapura. ”Semangat Taiko itu bersemayam di dada setiap orang Jepang,” tambah Matsuda, terkesan narsis, persis watak Hideyosi yang sesungguhnya. 
Hideyoshi memang seorang narsis. Bayangkan, ketika pertama kali melamar menjadi tentara, perwira penguji menanyainya, ”Apakah kamu pandai ilmu bela diri dan menggunakan samurai?” Jawab Hideyoshi, ”Saya tidak pandai berkelahi, apalagi mengayunkan samurai dengan baik, saya bercita-cita jadi jenderal, bukan umpan peluru seperti kalian!”
Sepanjang hidupnya, dari kecil, remaja, sampai dewasa, bahkan ketika sudah berada di puncak sukses, Hideyoshi selalu percaya diri, sehingga terkesan narsis, dan ambisius. ”Cita-cita Hideyoshi tidak berhenti di batas air,” tulis Yoshikawa. ”Ambisinya menjangkau lebih jauh, ke negeri yang diimpi-impikannya semasa kanak-kanak – negeri para kaisar Ming.” 
Dengan penuh emosional dan tak terkendali, Eiji Yoshikawa bahkan menulis tentang Toyotomi Hideyoshi alias sang Taiko: Bahwa ia sanggup membujuk setiap musuh untuk menjadi sahabat, bahwa ia sanggup membujuk burung yang membisu agar menyanyikan lagu yang dipilihnya. Sang Taiko meninggalkan warisan yang sampai sekarang tetap dikenang sebagai Zaman Keemasan.”
***
Adakah kekuasaan yang diraih oleh sang Taiko tak lebih dari keberhasilan menangkap seekor tawon di masa kecil? Tawon dan kekuasaan memiliki persamaan: berbisa dan mengandung madu. Apabila kau berhasil menangkap seekor tawon, sebagaimana Hideyoshi kecil dan kawan-kawannya, buanglah kepala dan kedua sayapnya, lalu sisanya masukkan ke mulutmu. Perut tawon itu penuh madu dan manis. Dan itulah persamaan tawon dan kekuasaan: nikmat apabila kita berhasil membuang sengatnya. ***

Sumber : https://www.facebook.com/samson.pasir/posts/1093699783979725?fref=nf&pnref=story
komentar | | Read More...

Ke Kemenpan RB

Penulis : Bakharuddin Ahmad on Selasa, 12 Mei 2015 | 20.45

Selasa, 12 Mei 2015

Mendampingi Ketua dan Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti melakukan audiensi di Kemenpan dan Reformasi Birokrasi, menyampaikan dan meminta penjelasan terkait masalah kepegawaian. Pada kesempatan tersebut juga hadir Wakil Ketua DPRD Kepulauan Meranti Muzamil Baharuddin

Mendampingin Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti ke KEMENPAN RB

komentar | | Read More...

Teratas

 
Copyright © 2011. Bakharuddin ~ Catatan dan Artikel Seputar Pendidikan . All Rights Reserved.
Design Template by Bakharuddin | Support by creating website | Powered by Blogger